Sepenggal Kisah Lima Jari – Kisah Helping Peduli Sosial

Jakarta, 2008, Cafe Ohlala, Sarinah.

tentang helping peduli sosial - logo

Sepenggal kisah Lima Jari

3 bulan setelah kegiatan bakti sosial dijalanan Grogol dan Karet Bivak selesai dituntaskan. Lima Jari sekarang memiliki Dedy sebagai manusia ajaib pencetus ide. Susy sebagai ibu peri yang mampu menelepon artis dimanapun, dan kapanpun, tanpa proposal.

Abdi si manusia cyber yang nanar menatap layar laptop setiap kali kita berjumpa dan Eka polisi jalanan yang sibuk mencoba meyakinkan kami berempat bahwa kami perlu membuat peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis bahwa kegiatan sosial, betapapun baik dan tulus niatnya, tetap membutuhkan standar operasional prosedur.

Kami tengah berdiskusi di sofa nyaman Cafe Ohlala. Seringnya cuman mesen satu gelas kopi tapi duduk di atas 6 jam!

Kami selalu rapat sejak pertemuan kita semua komplit oleh takdir. Kami rapat setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Tanpa henti. Sepanjang bulan, kalau lagi kere, biasanya kami memilih cafe himpiran jalan, atau saling berhutang dahulu.

Tempatnya bisa di mana pun. Di masa itu, Starbucks dan Cafe-cafe lainnya tengah menjamur di Megapolitan. Seringnya kami meributkan tentang ide, berargumentasi tentang tata cara implementasi yang sifatnya teknis. Tak jarang ujung dari hasil diskusi adalah sampah kertas yang diremas- remas sampai banyak menumpuk.

Aku lebih suka mengoyak-koyak kertas sampai meninggalkan bunyi sobekan, lebih dramatis! Ideku lah yang saat itu paling sering ditolak secara defacto beramai- ramai!

Aku mencetuskan bahwa ingin mendonasikan mimpi untuk anak jalanan. Ya donasi mimpi. Sebagai guru, saya diprogram untuk percaya bahwa anak- anak adalah kertas kosong yang masih bisa diisi, apapun yang kita ingin isi. Bahwa bahkan diumurku yang masih di awal 20-an saya sebetulnya hanya setengah mempercayai itu.

Dan dari track record bekerja sebagai relawan yang diwawancarai oleh diri sendiri, dipilih oleh diri sendiri dan dipekerjakan diri sendiri selama 3 bulan saja, saya menilai anak jalanan selain miskin uang, juga miskin mimpi. Kalau ditanya apa cita- citanya saat kita berkunjung ke kolong jembatan, jawabnya rata- rata “Presiden!”.

Ketinggian nak, bukan kakak tidak percaya dirimu mampu untuk menjadi, tapi masak iya Presiden adalah satu- satunya jenis pekerjaan yang kamu pahami? Untuk sampai ketahap itu kamu harus jago melompat dari satu posisi ke banyak posisi lainnya sebelum sampai di tujuanmu nak! Bahagianya mereka tidak paham begituan, bisik saya dalam hati.

Saya lantas tercetus ide secara spontan mengajak anak-anak jalanan ke Seaworld Indonesia. Saya deskripsikan bagaimana penampilan dan keadaan di tempat wisata tersebut kepada anak- anak.

“Ada ikan dalam kaca segede Atoz kak?”

Salah satu anak bertanya dan sebelum dijawab mereka ramai-ramai menertawakan saya, lebar dan keras! Satu kolong jembatan dipenuhi gema tawa mereka yang terkesan penuh olokan mengintimidasi. Saya dianggapnya bergurau, bahwa ada ikan hiu lebih lebar dari mobil Isuzu Panther dalam kaca dan dipelihara manusia adalah isapan jempol belaka.

Fix! Akan saya bawa mereka kesana sekaligus menutup mulut- mulut kecil sinis itu!

Belum sampai saya ketahap pembuatan sketsa proyek, interupsi sudah maju dari segala arah sofa.

“Gila lo De, butuh berapa duit? Semua anak lu ajak De? Di, lu cari data di internet Di, Seaworld masuk berapa sih satu anak?” Dedy terhasut, tapi matanya sibuk mencari ikon kalkulator di handphone esia jadulnya.

Aku menatap Dedy yang tengah sibuk akan memulai berhitung dari ujung mata sambil menyeruput kopi. Tak mungkin dia akan segera berhitung kalau dia tidak terhasut. Dasar akuntan!

“Duhh!, anak jalanan jangan dijanjiin macem-macem dulu deh kalau lo pada belum sanggup. Kalian toh baru mulai ginian, kalian belum kenal anak- anak dan sifat mereka, terus duit dari mana?? Kalau satu diajak ya semua harus diajak loh De,” Eka pemimpin anak- anak jalanan ikutan menghadang ide.

“Gue rasa itu ide bagus sih, tapi Artis gue bisa dijual gak disitu?” tanya Susi sambil nyalain sebatang rokok. Susy seperti biasa berusaha memasukkan elemen bisnis disemua wacana.

Abdi belum bersuara. Tangannya sibuk mengakses data internet mencari data dalam format Rupiah. Dahinya mengerut. Saya tidak suka penampilan wajahnya ketika dia ragu. Mudah terbaca.

Guys, listen. Ini emang susah secara budgeting, tapi bukan engga mungkin dilakuin. Kita berlima toh produk mimpi! Emang lo pikir kalau kita berlima tiga bulan lalu gak ketemu lagi ngapain kita sekarang?” sanggahku tolol.

“Ngomong dowang gak segampang implementasi De, kita udah lama banget mau ajak anak jalanan ke Seaworld tapi gak jadi- jadi. Anaknya ada ratusan, kita mampunya ke kebon binatang dowang taun lalu.” Eka berusaha menepis ide dan membelokkan jalur.

“Ya udah kita ke kebon binatang aja deh,” jawabku enteng.

“Ihhh ogah, orang udah pernah, ngapain kesana lagi?” si kampret Eka menjawab dengan enteng. Maju salah mundur salah.

Singkat cerita Dedy dan Abdi menghitung budget pengeluaran. Kita butuh setidaknya 12 juta untuk mengakomodasi 100 anak plus 25 relawan dari pihak sahabat Eka yang bekerja sebagai relawan anak jalanan dikolong jembatan, Grogol, Jakarta Barat. Kepala saya pusing mendadak. Uang dari mana? Jalan keluar termudah: merapat ke barisan Susy dan para artis!

“Sus, artis lo yang gretongan siapa aja?” tanyaku.

“Semua juga bisa asal acaranya jelas, menarik, dan yang pasti ada wartawan, selama kagak bentrok ama syuting mah bisa gue atur,” Susy tampak kurang yakin. Dia masih mencari celah untuk negosiasi bisnis.

“Ini bisa dilakuin, tapi kita gak bisa kaya kemaren gedebak- gedebuk. Ya Alhamdulilah sih target nyari makanan 700 bungkus datengnya seribu kotak. Kalau ini gak bisa dianggap sepele, siapa yang mau bayar Seaworld kalau duit kita nanti gak cukup?” Dedy tampak telah sampai dihasil konklusi kalkulasi dia.

“Ya udah kalo mau dilakuin, ayo kita jalanin sama- sama. Lo udah yakin belum Dean?” Abdi mengarahkan wajahnya dan bertanya padaku.

“Engga. Gue gak pernah yakin 100%. 3 bulan lalu gue juga gak yakin, malam ini lo tanya gue, gue jawab juga gak yakin. Tapi lihat, tahun kemarin gue cuma niatin ngasi makan anak jalanan, sukses. Tahun ini gue targetin lebih lagi, 700 bungkus, yang nyampe ke gue 1.000 lebih! Terus secara mendadak gitu kita punya logo ala-ala, punya nama yang pilihnya asal jadi. Dan bonusnya nih, gue dan Dedy punya kalian tambahan 3 buah kepala, itu harusnya lebih dari cukup buat kelarin estimasi ini. Gue gak ngerti kenapa, mungkin Hongsuinya lagi bagus kali, untuk ginian mungkin niat cukup. Bisnis engga, tapi niat cukup.” Jawabku panjang lebar.

“Dan perhitungan matang De, gue udah bilang engga mau gedebak-gedebuk kali ini.” sanggah Dedy

“Iya Ded, lo kan yang akuntan, lo hitungan lah semua, tar kita pikirin targetnya gimana.” jawabku sekenanya

“Duhh, gue malah baru pindah Jakarta lagi, apa-apa di sini mahal yak, gue gak bisa bantu banyak kali ini.” Abdi mengecek saldo uangnya di bank virtual.

Eka masih bengong, kayanya kita berempat mulai mengarah jadi satu, dan dia masih belum yakin kita mampu. Sebagai Founder Power Ranger  jadi- jadian, dia hampir selalu jadi yang terakhir untuk percaya bahwa mimpi bisa menjadi nyata. Matahari hampir terbit, saya udah ngantuk tersandar di sofa, Eka masih engga kelar bahas argumentasi tiada henti ke Abdi dan Dedy. Menurutnya kita berempat gila. Absurd tak terkira.

Desember 2008 – The Magic Works

Hanya dalam 2 bulan bekerja, Lima Jari sukses mengadakan trip mimpi ngadain Wisata ke Seaworld buat anak jalanan. 100 anak, 40 lebih relawan, 3 artis kalau gak lupa ingat, dan over budgeting yang saya bahkan udah lost tracking. Dan kita sekaligus memecahkan rekor MURI, kok bisa?

Alam Semesta turut bekerja kawan.

Ini pedoman dasar yang kami berlima percaya. Saat kami rapat berlima dan ribut sendiri, pemilik Cafe Ohlala di Sarinah ternyata nguping. Melalui dia, kami mendapatkan sponsor berupa makanan yang cukup signifikan. Saya lupa data validnya.

Tapi sihir dalam dua bulan itu begitu membekas di hati saya. Siapa sangka menguping bisa membawa berkah amal?

Eka dengan segala ketidakpercayaannya, menceritakan ide gila ini ke komunitas kolong jembatan sesama relawan. Alih-alih mendapat persetujuan pemboikotan acara, semua relawan malah bersedia membayar ongkosnya sendiri-sendiri dan membawa serta adik-adik jalanan ke Seaworld untuk edukasi bersama.

Materi acara dan susunan rundown? Mereka semua yang buat sendiri! Hahahahaa. Setiap kali mereka bertanya sesuatu pada kami, selama tidak menambah budget, selama tidak melanggar UUD 45, tanpa pikir panjang, kami selalu jawab : “BOLEH”.

Dari Eka, semua celah retak yang mungkin bisa menghancurkan proyek kemanusiaan ini malah menjadi tertutupi. Erat dan solid. Hasil interupsi dia yang tiada henti.

Lalu coret-coretan kita berlima di atas kertas yang awur-awuran setelah saya pulang dan tidur seusai rapat, rupanya dibaca oleh kakak sepupu saya dari Medan. Beliau pengusaha kopi dengan merek dagang Bilqis. Melalui ia dan suaminya kami mencetak rekor MURI sebagai kopi dengan sachet terbesar di Indonesia di dalam akuarium Seaworld.

Seluruh biaya operasional ditanggung oleh Bilqis, sedangkan Power Ranger ala ala bekerja sebagai konsultan tanpa gaji, dua bulan penuh, demi tiket gratis anak-anak jalanan. Kecuali artis dari Susy, wacana bisnisnya goal dan konkret terealisasi.

Bentuk proposal tidak selalu musti indah dan sistematis kawan. Kalau soal ginian, Alam semesta punya metodenya sendiri. Sampai detik ini saya tidak pernah merasa membuat proposal, mencetak proposal dan menujukan proposal ke salah satu pihak. Namun segala sesuatu yang dipersiapkan Lima Jari selalu sampai ke tangan tepat, pada waktu tepat, melalui orang yang tepat.

Kami berhasil mendapatkan full funded donasi? Iya dan tidak. Abdi dan Dedy harus memotong gajinya dengan potongan yang luar biasa besar (pada saat itu) untuk membayar biaya sewa bus Mikrolet sewaan untuk pulang dan pergi anak jalanan.

Seingat saya, selepas Desember tahun 2008, Dedy naik pangkat dari pegawai biasa di Production House Sinteron Indonesia menjadi Pimpinan Produksi. Abdi mendapatkan beasiswa S2 di tahun 2009 dan diterima bekerja di MenLu tahun 2010. Potongan gaji mereka dibayar berkali-kali lipat oleh semesta raya meski mereka tidak pernah berharap apalagi menduga.

Hari Ini…

Hari ini Lima Jari ultah ke- 9. Saya tidak yakin saya akan mampu mencerna dan mendata seluruh proses kelahiran, pembentukan, dan data- data lainnya. Terlalu banyak keajaiban yang terjadi setiap detik, bahkan ketika saya atau kita tidak menyadarinya, semesta selalu mempersiapkan subjek- subjek baru yang telah, sedang, dan akan ditempatkan kedalam barisan pasukan Lima Jari. Preses rekonsolidasi tiada henti. Evolusi.

Begitulah para founder dibentuk oleh semesta. Jadi melalui tulisan super panjang ini, tolong ijinkan saya memberikan satu saja tips dan trick mandraguna yang saya yakini dan amini selalu berhasil di dalam ekosistem sosial kemanusiaan.

JANGAN TAKUT BERMIMPI DAN BERHENTI MENGKALKULASI.

Jadikan interupsi dan segala jenis penolakan menjadi semacam masukan yang kognitif. Anda butuh waktu bertahun-tahun untuk memoles kemampuan menerima timpukan batu bata ke arah Anda, kemudian mampu untuk ditangkap, dilumuri semen, lalu Anda susun dan bangun menjadi bentuk konkret.

Semakin banyak batu yang dilempar ke arah Anda maka semakin tinggi dan kokoh bangunan yang mampu Anda bangun. Poles saja kemampuan Anda untuk menangkap, dan pastikan sambitan tersebut tidak mencederai Anda, atau seminimal mungkin. Selamat berlatih!

Ini proyek kemanusiaan, bukan bisnis! Berhenti berhitung and just enjoy the journey! Selamat menjadi!

Yang masih sibuk melumuri bata dengan semen,
Menuju 23 Juli 2016

Upcoming Event: Bakti Sosial Pengecekan CD 4 Gratis bagi Anak ODHA

FacebookTwitterGoogle+Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *